Jadikan Aku Alat Damai Sejahtera-Mu

DALAM nubuat di Yesaya 9:5 yang berbunyi, “… dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”, Yesus disebut Raja Salam atau Raja Damai.

Sayang, kata salam dan damai sudah agak merosot artinya. Salam diartikan orang sebagai tabik. Misalnya dalam ucapan “kirim salam”. Kalau orang mengatakan bersalaman, artinya hanya berjabat tangan. Kata damai pun diartikan hanya sebagai keadaan tidak pe­rang. Padahal maksud sebenarnya adalah jauh lebih luas dan dalam.

Latar belakang kata damai atau salam di Alkitab adalah kata Ibrani: syalom. Arti kata syalom dapat kita lihat dari contoh-contoh berikut ini:

Jika bangsa dan negara berada dalam persatuan, tak terpecah dan tak terkotak-kotak, maka dikatakan bahwa bangsa dan negara berada dalam syalom. Di sini syalom berarti ”keutuhan”.

Jika dua orang atau dua kelompok berdamai kembali dan me­mulihkan lagi hubungannya setelah beberapa waktu terputus atau renggang, maka dikatakan antara kedua orang atau kelompok itu terdapat syalom. Di sini syalom berarti ”keselarasan”.

Jika panen berhasil dan tiap orang tercukupi kebutuhan hidupnya, maka disebutlah rakyat hidup dalam syalom. Di sini syalom berarti ”damai sejahtera” atau ”makmur” atau ”berkat”.

Jika suatu perjalanan telah kita lewati dengan baik, tanpa gang­guan atau kecelakaan, maka dikatakan kita telah mendapat syalom. Di sini syalom berarti ”selamat”.

Demikianlah syalom mengandung arti yang luas dan dalam. Tiap kali Alkitab berkata tentang damai sejahtera, maka yang dimak­sud adalah syalom, yakni utuh, selaras, berkat, selamat, bahagia, sehat, tertib, semua berada dan berfungsi sebagaimana seharusnya.

Yesus disebut Raja Damai. Pada kelahiran-Nya malaikat mengata­kan, “Damai sejahtera di antara manusia” (Luk. 2:14). Dengan kelahir­an Yesus, maka dimulailah suatu zaman baru di mana Allah bersedia memulihkan kembali hubungan dengan manusia. Keadaan damai antara manusia dengan Allah menghasilkan pula keadaan damai di antara manusia.

Tetapi, damai sejahtera bukan turun begitu saja dari langit. Ia harus diusahakan, dengan itikad baik dan kesungguhan.

Ada gereja-gereja yang mempunyai kelaziman menaikkan doa Franciscus dari Asisi pada kebaktian Natal. Sebagian dari doa itu berbunyi:

 

Ya Tuhan, jadikanlah aku alat damai sejahtera-Mu

supaya aku mengasihi, di mana ada kebencian

memaafkan, di mana ada saling menghina

mempersatukan, di mana ada pertentangan

menimbulkan pengharapan, di mana terdapat ketidakpastian

menyatakan terang, di mana kegelapan berkuasa

membawa kegembiraan, di mana kesedihan mencekam…

 

Itulah tugas kristiani yang diberikan Allah kepada Gereja-Nya dengan kelahiran Yesus: menjadi alat damai sejahtera Yesus Kristus. Tetapi, sekali lagi, damai sejahtera tidak akan ada kalau hanya dislo­gankan, ia harus diusahakan. Kalau tidak, orang cuma menjadi sinis dan gereja menjadi ibarat nabi palsu yang oleh Yeremia diejek, “Mereka berkata: Damai sejahtera! Damai sejahtera! Tetapi damai sejahtera itu tidak ada” (Yer. 6:14).

p

Tinggalkan Balasan