Pelopor yang Bersedia Dilupakan

KELAHIRANNYA terjadi dalam rentetan peristiwa kelahiran Yesus. Bahkan kemudian hari, Yesus berkata tentang dia: “Sesung­guhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak per­nah tampil seorang yang lebih besar daripada dia” (Mat. 11:11).

Tetapi, dalam cerita-cerita Natal biasanya ia dilupakan. Siapa dia? Yohanes Pembaptis. Ia memang dilupakan pada perayaan-perayaan Natal. Selama hidup saya belum pernah saya melihat gambar tokoh Yohanes Pembaptis di kartu Natal atau diperankan di atas pentas sandiwara Natal.

Namun, ia bukan hanya tokoh yang dilupakan. Ia pun tokoh yang bersedia dilupakan.

Padahal, ia seorang pelopor. Menurut Nyanyian Pujian Zakharia di Lukas 1:76-77, Yohanes Pembaptis dilahirkan sebagai perintis jalan pada kedatangan Yesus. Ia pelopor. Biasanya, seorang pelopor merasa diri memiliki saham yang besar. Merasa berjasa. Ingin popularitas. Tetapi, Yohanes Pembaptis tidak demikian.

Justru karena ia mengetahui dirinya pelopor, maka ia menyadari bahwa perhatian umum tidak boleh ditujukan kepada pelopor itu sendiri, melainkan kepada siapa yang dipeloporinya.

Kalau ada tamu kepala negara, di depan mobilnya beriringanlah motor polantas dengan sirene meraung-raung. Itu pelopor. Tetapi, perhatian kita tokh bukan ditujukan kepada Polantas itu, melainkan kepada sang tamu kepala negara.

Sebab itu, Yohanes Pembaptis berkata tentang Yesus: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30).

Siapa sebenarnya Yohanes Pembaptis? Hanya satu buah ayat yang berbicara tentang masa kecil dan masa mudanya, yakni: “Ada­pun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel” (Luk. 1:80).

Agak misterius memang. Tinggal di padang gurun. Berpakaian jubah bulu unta. Makan belalang dan madu hutan. Tetapi di dalam dirinya bertumbuh seorang pelopor yang berjiwa besar: yang tahu kapan harus memulai dan kapan harus mengundurkan diri, yang ingat bahwa duduk tidak boleh berarti lupa berdiri, yang ingat bah­wa popularitas harus dialihkan kepada yang berhak menerimanya.

Ia memang populer. Matius 3:5 mengatakan: “… maka datang kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan.” Bahkan di Markus 6:20 dikatakan bahwa Herodes Antipas pun senang mendengarkan dia. Namun di tengah popularitasnya itu, ia menunjuk kepada Yesus. “Lihat Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika …” (Yoh. 1:29, 30).

Tragis bahwa orang sebesar Yohanes Pembaptis hidupnya ber­akhir di “sebuah talam” (lih. Yoh. 14:11).

Mengapa Yesus menyebut Yohanes Pembaptis orang yang pa­ling besar? Yang pasti bukan karena membuat mukjizat, sebab satu pun tidak ada mukjizat yang ia buat (lih. Yoh. 10:41). Agaknya, ke­besarannya terletak dalam jiwa kepeloporannya tadi.

Tanpa pamrih ia berseru-seru di padang gurun: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan. Luruskanlah jalan bagi-Nya …” (Luk. 3:4).

p

Tinggalkan Balasan