Allah Turun Tangan

PERNAH ada sebuah lagu populer yang dinyanyikan oleh Bimbo Group berjudul “Tangan”. Liriknya berbunyi:

Orang yang gampang memukul, kita sebut ringan tangan.

Orang yang hobinya maling, kita sebut panjang tangan.

Orang yang kita percaya, kita sebut kaki tangan.

Kalau Anda setuju, kita akan jabat tangan.

Meraba, membelai, menulis, dan memegang,

menggaruk, mencubit, memukul dan hompimpah,

semua pakai tangan.

 

Lagu itu hendak berkata: tangan adalah penting. Memang ta­ngan adalah anggota tubuh yang paling banyak digunakan. Pagi, malam ataupun siang, tangan terus bergoyang.

Apa hubungan Natal dengan tangan?

Dalam Alkitab ada banyak ungkapan tentang tangan Allah. Kalau Allah marah, Alkitab berkata: tangan Allah diacungkan, tangan Allah menimpa, tangan Allah menekan.

Kalau Allah menolong, Alkitab berkata: tangan Allah meliputi, tangan Allah menyertai, tangan Allah melindungi.

Alkitab juga menggambarkan tangan Allah sebagai tangan yang memelihara. Tangan Allah mengatur perputaran roda sejarah.

Anda mungkin berkata, kalau tangan Allah mengatur mengapa dunia ini semrawut. Yesaya 59:1 berbunyi demikian: “Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan ….” Ayat ini sepertinya mau menunjukkan bahwa kusutnya hidup ini bukan karena tangan Allah kurang menjangkau, tetapi karena tangan ma­nusia yang mengacau.

Lantas, apa yang diperbuat Allah terhadap dunia dan manusia? Ada beberapa kemungkinan.

Kemungkinan pertama. Allah lepas tangan. Masa bodoh. Lalu Allah cuci tangan dan berpangku tangan.

Kemungkinan kedua. Allah jadi gatal tangan. Artinya, Allah sudah tidak sabar lagi, ingin memukul. Allah menjatuhkan tangan, meng­hukum dunia.

Kemungkinan ketiga. Allah angkat tangan. Kewalahan. Putus asa. Dunia ini sudah payah.

Nah, kemungkinan mana yang ditempuh Allah? Ternyata satu pun tidak ada yang ditempuh Allah.

Allah memilih cara yang keempat. Apa itu? Allah turun tangan. Itulah yang terjadi pada peristiwa Natal. Allah turun tangan. Natal adalah tangan Allah turun ke dunia. Tangan Allah mau memberes­kan yang kusut. Natal adalah Allah mengulurkan tangan.

Apa motifnya penguluran tangan itu? Yohanes 3:16 berkata: “Karena begitu besar kasih Allah kepada dunia ini sehingga Dia me­ngaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Allah mengulurkan tangan karena cinta. Akan tetapi cinta tidak bisa bertepuk sebelah tangan. Pihak Allah sudah menawarkan tangan, masakan pihak manusia terus menyimpan tangan?

Mazmur 144:7 mengajak kita berseru: “Ya Tuhan, ulurkanlah tangan-Mu.” Itulah doa Natal. Ya Tuhan, ulurkanlah tangan-Mu dari tempat yang mahatinggi; ulurkanlah tangan-Mu ke bumi.

Sebab itu, Natal baru bermanfaat kalau uluran tangan pihak Allah dijawab dengan sodoran tangan pihak manusia.

Inilah Natal: Tangan Allah menyentuh tangan manusia, lalu Allah mengajak kita berjabat tangan.

Bayangkan, Allah dan manusia berjabat tangan!

p

Tinggalkan Balasan