Merayakan Natal Itu Berbahaya

Pengantar:

Mulai hari ini Bintangpapua.co akan memuat secara bersambung artikel tentang Natal yang kami kutip atas seijin penulisnya Pdt. Dr. Andar Ismail (75 tahun). Dia adalah  seorang teolog dan pedagog, pendeta emeritus GKI Samanhudi Jakarta dan mantan dosen STT Jakarta. Semua artikel ini adalah bagian dari Buku Seri Selamat Natal (BPK Gunung Mulia, Jakarta), salah satu dari 33 Buku Seri Selamat yang akan ia tulis. Dua kali dalam seminggu Pdt. Andar Ismail masih berkantor di Penerbit BPK Gunung Mulia sebagai konsultan.

***

MERAYAKAN NATAL kelihatannya gampang, tetapi sebetulnya susah. Susah dalam arti berbahaya dan berisiko, ibarat berjalan di tepi sawah pada waktu malam tanpa bantuan cahaya. Kalau kurang hati-hati bisa terperosok.

Yang paling mencolok adalah bahwa kita mudah terperosok ke dalam komersialisasi Natal. Tanpa kita sadari Natal telah kita jadikan sumber rupa-rupa bisnis dan rezeki. Natal seolah-olah sudah tidak terpisahkan dari pohon terang, keranjang Natal, kartu Natal, kue Natal, tour Natal dan sejumlah komoditas atau barang dagangan la­in. Kalau Yesus datang ke perayaan Natal zaman sekarang, mungkin dengan terheran-heran Ia berpikir, “Apa hubungannya barang-barang ini dengan kelahiran-Ku?”

Kita juga jatuh dalam kesibukan Natal. Beberapa minggu sebe­lumnya kita sudah kena demam Natal, di rumah, di gereja, di sekolah atau di tempat kerja. Belanja ini itu. Menyiapkan rupa-rupa hal. Meng­hadiri pertemuan sana-sini. Apalagi pada hari pelaksanaannya. Kita bernyanyi, “Malam Kudus, sunyi senyap ….” Namun hati kita tidak sunyi senyap. Hati kita hiruk-pikuk dan hingar-bingar.

Kita juga bisa terperosok dalam keramaian bersuasana gemer­lapan dan kemewahan. Apakah yang dibisikkan oleh hati nurani kalau kita duduk di tengah segala kemewahan, padahal yang sedang kita rayakan adalah kelahiran seorang bayi dalam sebuah keluarga yang sederhana dan miskin?

Atau kita bisa terperosok dalam emosi merohanikan Natal de­ngan berkata bahwa kita perlu “membuka hati menjadi palungan” supaya “Yesus lahir di hati kita”. Kata-kata itu terdengar bagus, tetapi apakah maknanya? Sebaliknya, berteriak seperti seorang demonstran yang mendesak “agar Natal ditindak-lanjuti keadilan” adalah hanya slogan dan retorika.

Kita juga bisa jatuh dalam kemunafikan Natal. Pada hari-hari Natal tiba-tiba kita berubah menjadi baik hati, damai dan pemurah. Tetapi begitu Natal usai, kita kembali ke pola hidup yang egois, beri­ngas dan mata duitan. Kalau begitu kita menjadi ibarat lampu dan hiasan Natal yang hanya menyala selama beberapa hari saja pada bulan Desember.

Bahaya lain adalah bahwa Natal dipersempit menjadi kejadian eksklusif “dari kita ke kita” untuk mencari kepuasan rohani kita sen­diri. Padahal justru pada peristiwa Natal Allah menunjukkan solida­ritas kepada manusia.

Natal banyak bahayanya. Itu sebabnya tadi dikatakan bahwa merayakan Natal bukan perkara gampang. Kita mudah terperosok ke dalam hal-hal yang mengaburkan makna Natal yang sesungguhnya.

Tetapi apakah makna Natal yang sesungguhnya? Itulah yang kita cari bersama.

Merayakan Natal banyak bahaya dan risikonya. Tetapi itu bukan berarti kita harus membuang perayaan Natal. Adanya bahaya dan risiko menjadikan kita berhati-hati. Itulah yang mau kita pelajari: merayakan Natal dengan hati-hati.

Ibarat berjalan di tepi sawah pada malam hari, kita berjalan hati-hati supaya jangan terperosok. Tadi dikatakan bahwa kita berjalan tanpa bantuan cahaya. Sebenarnya cahaya itu ada. Bukankah ada se­buah bintang terang yang menerangi kita? Langit yang luas membu­ka segala kemungkinan. Allah bisa menempatkan bagi kita semua sebuah bintang besar dan terang yang “mendahului hingga tiba dan berhenti di atas tempat di mana Anak itu berada” (Mat. 2:9).

p

Tinggalkan Balasan