Kalimat Dibaca, Uang Cair

Potret Pendidikan di Pegunugan Tengah Papua

Pendidikan (dan kesehatan) adalah persoalan yang menonjol di Lanny Jaya. Gambaran tentang hal ini saya peroleh dalam dua kali pertemuan dengan Chris Sohilait, Sekretaris Daerah Kabupaten Lanny Jaya pada Agustus 2016 lalu.

Jalan saya menuju Chris terbuka lebar berkat Wahyu Joko Susilantoro, Manager Wahana Visi Indonesia (WVI) ADP Eruwok yang meliputi Kabupaten Lanny Jaya, Jayawijaya dan Tolikara. Lajang kelahiran Pati, Jawa Tengah itu kenal secara pribadi dengan Chris. Dua jam pada pertemuan pertama disertai makan malam dan dua jam lagi pada suatu hari Minggu yang cerah usai ibadah.

“Beliau penguasa di Lanny Jaya,” Joko berseloroh tentang Chris ketika kami menuju rumahnya di Kompleks KPR, Jalan Masuk Pikeryo Air, Wamena. Matahari sedang terik hari Minggu itu.

“Pak Sekda tahu persis semua persoalan di sini. Seperti ia mengenali telapak tangannya sendiri,” kata Joko lagi. Kali ini dengan mimik serius.

Benar belaka yang dibilang Joko kepada saya. Dalam dua kali pertemuan itu, Chris seperti sudah menyimpan semua hal dalam kepalanya. Tinggal ia tumpahkan saja.

Saya juga ikut merasakan bagaimana Chris bersama yang ia sebut “sekutu pendidikan”  benar-benar banting tulang  untuk menaikkan derajat pendidikan di daerahnya. Semangatnya menggelagak. Suaranya tegas. Ia kerap mengetuk meja dengan telunjuk untuk memberi penekanan pada hal-hal yang dianggap penting.

Christ dan Joko memang kerap runtang-runtung, berdua ke mana-mana. Ini terkait dijadikannya WVI sebagai mitra utama Pemda Lanny Jaya. Waktu itu, keterangan Joko, Chris meminta secara resmi kepada WVI Kantor Operasional Lanny Jaya, ya ADP Eruwok itu,  guna mendampingi 3 sekolah percontohan di sana.

Ini perkara serius. Sebab Pemda pakai surat rekomendasi.

Ketiga sekolah itu adalah  SD YPPGI Tobanapme, SD Inpres Indawa dan SD Inpres Tiom. Bagaimanapun, kata Chris, kalau 3 sekolah ini beroperasional dan proses belajar-mengajarnya lancar, kalau murid dan guru-gurunya rajin, silabus dan metode mengajarnya ada, ia dapat menjadi contoh bagi sekolah lain.

“Tugas kami mengurus manajemen sekolahnya. Juga melatih guru-guru agar kapasitas mereka meningkat,bisa mengajar dengan baik, bisa menyiapkan RPP, silabus, dan lain-lain,” kata Joko.

Chris membuka cerita dari pelantikan Bupati Lanny Jaya Befa Yigibalom, SE., M.Si. periode pertama pada 25 Oktober 2011. Lima bulan setelah dilantik, sang bupati membuat evaluasi. Semua sektor di Lanny Jaya dibedah.

Ditemukanlah bahwa sektor pendidikan adalah sektor yang paling buruk kondisinya dari semua sektor yang ada. Bahkan lebih buruk dari sektor kesehatan.

“Paling rusak sudah itu, pendidikan,” kata Chris.

Karena itu Chris didapuk menjadi pejabat sementara Kepala Dinas Pendidikan. Ia dinilai sanggup mengemban tugas ini meski tak punya latar belakang keahlian di bidang pendidikan. Chris seorang sarjana teknik.

Tafsir saya, barangkali juga karena bupati melihat mobilitas Chris yang sangat tinggi dan terutama ia bisa masuk ke berbagai kalangan.

Tak dapat disangkal, sebagian SD di Kabupaten Lanny Jaya berada di zona “merah”, yakni kawasan yang dikuasai oleh kelompok bersenjata. Chris salah satu—atau mungkin satu-satunya—yang bisa berkomunikasi dengan mereka. Dia simpatik.

“Alat-alat berat kami dijaga oleh teman-teman OPM. Tidak ada masalah. Kita mesti kedepankan pendekatan persuasif. Tapi kalau mereka bikin kacau, apa boleh buat. Mereka berhadapan dengan polisi dan tentara,” kata Chris yang pada suatu kesempatan hampir tewas diterjang peluru OPM bersama putranya Alkuin Sohilait. Kaca mobil mereka lebur dilantak pelor AK-47.

Chris rangkap jabatan.  Dua jabatan yang bertolak belakang. Sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum “mainan”nya lumpur, bahan peledak dan alat-alat berat. Tetapi sebagai Kadis Pendidikan ia mesti datang dan berbicara dengan warga, guru-guru dan murid.

Pesan Bupati Befa Yigibalom jelas. Chris harus memetakan persoalan pendidikan di Lanny Jaya. Ia juga mesti mencari jalan keluarnya. Menurut Befa, terlalu lama daerah ini dibekap persoalan yang sama.

Sang komandan “pasukan sekutu pendidikan”, istilah yang dikenakan Joko untuk Chris, mulai bergerak. Langkah awal diambil. Sekolah-sekolah didatangi satu per satu.

“Entah itu di  atas gunung, di dasar lembah, di hutan, saya datangi. Saya mau tahu sendiri apa persoalan mereka yang sebenarnya,” papar Chris.

Yang segera tampak soal baca-tulis-hitung—calistung. Murid-murid di sana masih terbatas dalam soal calistung ini. Setiap ada kunjungan entah oleh bupati atau kepala-kepala dinas yang lain, mereka sering jumpai murid kelas 6 SD atau murid SMP yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung.

“Betul-betul rusak. Buruk sekali. Kelas 6 SD belum bisa membaca,” kata Chris pada saya.

Christ menceritakan pengalaman pribadinya. Suatu kali menjelang ujian akhir pada tahun 2012 ia berkunjung ke salah satu Sekolah Dasar.  Christ mencopot topi dinas dari kepalanya. Ia minta murid kelas 6 SD itu membaca nama yang tertera di samping topi.

“Lama sekali dia eja. Ccch ….Ceha….Ristian. Saat itu juga saya minta gurunya agar  anak ini jangan ikut ujian akhir. Membaca saja tidak lancar,” ujar Chris gusar. Gara-gara ini Chris hampir dipanah orangtua murid.

Dari 60 SD yang ada, kata Chris, hanya hanya 15 sekolah yang beroperasi. “Artinya,  fisik gedungnya masih bagus. Guru dan murid ada. Itu saja dulu. Kita belum bicara kualitas.”

Sisanya adalah sekolah yang gedungnya mau ambruk. Sekolah yang kelasnya tanpa meja-kursi. Yang jendela dan pintunya jebol. Sekolah yang tidak punya guru.

Padahal di kantor dinas pendidikan Lanny Jaya terdaftar sekitar 300 guru untuk seluruh kabupaten. Semua berstatus PNS. Tetapi yang aktif mengajar hanya  170 orang.

“Yang lain ada di mana-mana. Alasannya macam-macam,” ujar Chris.

Misalnya, sebuah SD di Distrik Pirime punya 10 orang guru. Tetapi yang mengajar hanya 3 orang. Sisanya? Ada yang berdagang ke Wamena. Ada yang dikejar-kejar penagih utang. Yang lain melarikan diri karena poligami tiga istri.

Pada sekolah lain, guru-guru masuk hutan. Mereka menjadi simpatisan OPM. Enden Wanimbo, Kepala SMP Negeri Pirime bahkan menjadi salah satu pimpinan OPM.

“Gaji mereka saya tahan. Saya sebarkan informasi ke hutan. Kalau kalian masih mau mengajar anak-anak Republik Indonesia segera turun. Kalau tidak, akan berhadapan dengan aparat,” cetus Chris.

Ada yang taat. Mereka segera turun gunung. Kembali mengajar. Namun ada yang memilih tetap memanggul senjata di hutan.

Tetapi ada juga temuan yang bikin Chris trenyuh. Ia ingat, di sebuah SD di Poga, ia ketemu  guru yang tidak tahu bagaimana harus mengajar murid-muridnya. Satu-satunya buku pegangannya sudah hancur. Puluhan tahun buku itu dipakai mengajar.

“Begitu kumalnya sampai tidak bisa dibaca lagi,” Chris menghela nafas. Karena peristiwa itulah, setiap turun ke Jakarta atau kota lain Chris menyempatkan diri membeli buku yang ia berikan kepada guru-guru di sana.

Ada pula guru yang merasa salah ditempatkan oleh dinas.

Bapa, suku kami perang lawan suku sana. Tidak mungkin saya mengajar di suku itu,” Chris menirukan sang guru. Lain waktu ia ketemu guru  yang tidak mau mengajar karena pangkatnya tidak dinaikkan selama 16 tahun.

“Yang bisa saya intervensi, saya lakukan. Yang tidak bisa, saya minta tolong kepada sekutu pendidikan,” ujar Chris.

Misalnya lagi, sebuah SD di Poga. Sekolah dan kampung dipisah oleh sungai besar. Arusnya deras. Untuk sampai ke sekolah anak-anak berjalan kaki naik turun bukit sejauh 4 kilometer. Ke tempat yang airnya dangkal. Mereka menyeberang di sana.

“Saya minta kontraktor agar dalam waktu satu minggu jembatan harus jadi. Dan satu minggu persis jembatan jadi. Anak-anak bisa menyeberang dengan aman ke sekolah. Mereka hanya perlu waktu 10 menit,” kata Chris.

Pengadaan besar-besaran dilakukan untuk sekolah-sekolah  yang tidak punya meja-kursi, alat tulis, informasi kelas seperti foto presiden, wakil presiden, gambar flora-fauna, gambar penambahan-pengurangan, dan lain-lain.

Guru yang 16 tahun tidak naik pangkat, dinaikkan dua kali lipat pangkatnya. “Dia bilang, baik sudah Bapa. Saya akan mulai mengajar lagi,” tiru Chris.

Mitra pendidikan turun tangan melatih para guru. Ada sekolah yang hanya punya satu guru, tetapi mengajar 6 kelas.  “Teman-teman dari Unicef, WVI  dan LPMP yang punya trik. Mereka adakan pelatihan guru, bagaimana satu guru bisa menangani 6 kelas sekaligus,”  ujarnya.

Delapan bulan Chris mengurus pendidikan. Delapan bulan penuh tantangan. Tetapi target pertama terlampui. “Sekolah-sekolah operasional dulu. Soal murid belum bisa baca-tulis-hitung, kita urus belakangan,” kata Chris.

Masalah berikutnya, kualitas guru. Chris mengakui kualitas guru-guru lokal di sana cukup rendah. “Karena itu kami perlu guru-guru dari luar Papua,” kata Chris.

Ia mengontak Kementerian Pendidikan Nasional untuk mendapatkan guru kontrak melalui Program SM3T(Sarjana Mendidik di daerah terluar, Terdepan dan Tertinggal ) dari Universitas Negeri Riau dan  Universitas Medan. Jumlahnya 65 orang.

Chris juga menghubungi Yayasan Alirena dan mendapat tenaga guru sebanyak 30 orang, Yayasan Oikonomos Papua 6 orang, Yayasan Indonesia Cerdas 120 orang, Yayasan Hak Dasar Papua 60 orang. Mereka adalah guru SD-SMP dan guru PAUD. Para guru ini digaji antara Rp 5-8 juta per bulan. Mereka ditempatkan di SD di seluruh wilayah Kabupaten Lanny Jaya.

“Sama guru-guru ini saya minta satu hal. Tolong siapkan data sekolah, mulai dari jumlah murid, berapa orang dari setiap kelas yang bisa membaca dan sebaliknya berapa orang yang belum bisa membaca,” kata Chris.

Setelah data di tangan,  Chris mendatangi warga di sekitar sekolah, bertanya tentang identitas anak dan riwayat keluarganya.

“Saya tanya anak ini tinggal di mana dan siapa nama orangtuanya?” aku Chris.

Tujuan Chris, masyarakat harus ikut bertanggung jawab atas pendidikan. Hal ini terkait dengan kebiasaan-kebiasaan yang tidak mendukung pendidikan dalam masyarakat.

Kalau ada peristiwa kematian di suatu kampung, sekolah langsung tutup. Tak satu pun murid masuk sekolah. Semua anak ikut orangtua mereka melayat ke rumah duka. Cilakanya, acara duka bisa berlangsung antara 5-7 hari.

Demikian pula kalau ada panen raya, pesta gereja, pembukaan kebun baru, pelantikan kades, pelantikan camat, konflik antarsuku, tak satu pun anak datang ke sekolah.

Chris berhitung. “Kalau dalam setahun ada 5 sampai 10 orang meninggal, bisa 10 minggu mereka tidak masuk sekolah. Belum pesta gereja, panen, buka kebun baru, dan lain-lain,” ujarnya.

Pemda tidak kalah akal. Mereka bikin peraturan. Semua kepala keluarga yang buka kebun baru, panen raya,  acara gereja, acara kematian, dan membawa anak-anak mereka ke sana, jatah beras raskinnya ditahan. Kebijakan ini cukup  menolong. Orangtua jerih membawa anak mereka ke sana.

Sebagai kontrol, Chris meminta setiap kepala SKPD mencermati acara-acara pesta dalam masyarakat. “Kalau mereka jalan harus perhatikan acara-acara pesta semacam itu. Saya minta mereka turun dan periksa apakah di situ ada anak sekolah atau tidak?” ujarnya.

Gerakan ini membawa hasil.

Sekarang giliran buta huruf yang diberantas.

Pemda mengerahkan para pendeta. Jumlahnya sekitar  800 orang. Warga dikumpulkan di gereja dan diajari calistung sederhana. “Kami siapkan abjad dalam bahasa daerah. Para pendeta yang mengajari mereka,” kata Chris.

Ada juga cara unik. Semua kepala kampung di Tiom diwajibkan memiliki rekening di Bank Papua. Rekening ini terkait dengan uang pemberdayaan kelompok masyarakat. Sebelum mereka masuk mengambil uang, di depan teller bank mereka harus membaca satu kalimat yang sudah disiapkan. Pendek saja. Misalnya: Saya orang Tiom, Indonesia. Teller bank hari itu berfungsi sebagai guru. Kalimat berhasil dibaca, uang cair.

Demikian pula kalau ada pertemuan di kampung-kampung, warga diwajibkan berbahasa Indonesia.

Kita paksa mereka pake bahasa Indonesia. Berat memang kondisi di sini, tapi pelan-pelan pasti bisa. Buta huruf ini turut mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia kami menjadi rendah,”jelasnya.

Chris ibarat pendekar. Jurus-jurusnya untuk menyelesaikan persoalan pendidikan, banyak. Termasuk jurus berikut ini:

Di bawahnya ada 27 orang Kepala SKPD. Kalau di perusahaan, mereka ini selevel manajer. Persis di bawah Christ yang seorang direktur. Ada garis komando.

Dari 27 orang ini, 25 orang di antaranya asli Tiom. Warga asli Lanny Jaya. Punya kampung halaman.

Chris mewajibkan masing-masing kepala SKPD mendirikan dan mengelola satu PAUD di kampung halamannya. Kalau ada dua orang dari kampung yang sama, salah satu digeser ke kampung lain yang berdekatan.

Mereka bertanggung jawab untuk  operasional PAUD: menyiapkan kacang hijau, gula, beli telur dua kali sebulan dan menyiapkan seragam buat anak-anak. Dari mana dananya?

“Mereka semua kepala SKPD yang punya wewenang untuk mengatur uang. Mereka juga punya uang perjalanan dinas. Kasih keluar Rp 5-10 juta, tidak rugilah mereka,” ujarnya. Christ sendiri mempunyai PAUD yang ia kelola yakni PAUD Abuyunes di sisi jalan Wamena-Tiom.

Sebagai  sekda, Chris adalah motivator bagi rekan kerjanya. Dalam banyak pertemuan, ia kerap meminta mereka meluangkan waktu dan tenaga lebih banyak untuk Lanny Jaya.

“Saya bilang pada teman-teman, kita punya waktu yang sama, 24 jam. Jam kantor di seluruh republik ini juga sama, antara 6-7 jam sehari. Kalau mau tambah-tambah sedikit, ya 8-9 jam.  Tetapi kalau kita mau lihat ada perubahan dalam waktu yang dekat, maka kita juga harus bekerja dengan sedikit lompatan. Kalau orang lain hanya kerja 10 jam, saya minta kalian kerja 15 jam sehari. Pasti ada perubahan, meskipun kecil saja. Kalau kita tidak lakukan hal ini, kita akan tetap sama dengan kabupaten lain,” kata Chris.

Pada kesempatan lain Pemda Lanny Jaya ikut ambil bagian dalam pembuatan film Di Timur Matahari yang diproduksi Alenia Pictures, rumah produksi milik Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Tema film ini tentang pendidikan dan benturan budaya.

Saya cuplikkan sinopsisnya dari Wikipedia.org:

Pagi itu seperti pagi hari biasanya. Matahari terbit di timur menyinari pulau ini. Papua, pulau paling timur dari Indonesia, di mana cahaya matahari selalu meneranginya terlebih dahulu. Namun, tidak bagi Mazmur, Thomas dan teman-temannya. Pagi itu mereka masih menunggu kedatangan cahaya itu, cahaya yang akan menerangi mereka dari gelapnya kebodohan, tapi seperti hari-hari yang telah berlalu cahaya itu tak kunjung datang… GURU!

Mazmur setiap hari selalu menunggu kedatangan guru pengganti di sebuah lapangan terbang tua, satu-satunya penghubung kampung itu dari kehidupan di luar sana. Kampung mereka berada di daerah Pegunungan Tengah Papua, daerah yang cukup sulit untuk dijangkau. Pagi itu ia memandang penuh harap ke langit, semoga hari itu ada pesawat yang datang dan membawa guru pengganti karena sudah 6 bulan tak ada guru yang mengajar.

Setelah Mazmur melempar pandangannya kepada Bapak Yakob, pria paruh baya “penjaga” lapangan terbang: dengan sepatu booth, Trench Coat kayak rain coat dan meniup alat music tradisional. Dari Bapak Yakob, Mazmur tahu guru belum juga  datang.

Dia berlari ke sekolah, memberi kabar kepada Thomas, Yokim, Agnes dan Suryani yang dengan setia selalu menunggu kabar itu. “Guru pengganti belum datang, kita menyanyi saja….” Kembali kalimat itu yang keluar dari mulut Mazmur.

Karena guru tidak pernah datang akhirnya kelima anak ini mencari pelajaran di alam dan lingkungan sekitar. Lewat pendeta Samuel, ibu dokter Fatimah, om Ucok dan om Jolex mereka mendapatkan banyak pengetahuan. Namun sebuah kejadian mengubah semua itu. Blasius, ayah Mazmur terbunuh oleh Joseph, ayah  Agnes, dan paman dari Yokim dan Suryani.

Pertikaian antar kampung tak bisa dihindari. Kabar kematian Blasius sampai kepada Michael, adik Blasius yang sejak kecil diambil oleh “Mama Jawa” yang tinggal dan belajar di Jakarta. Michael terpukul mendengar itu, bersama Vina istrinya, dia memutuskan untuk kembali ke Papua dan mencoba menyelesaikan permasalahan ini. Namun tidak segampang yang dipikirkannya, karena adik bungsunya Alex menentang semua pemikiran modern dari Michael. Perang! Itu jalan satu-satunya bagi Alex untuk membalas kematian Blasius.

Orang dewasa bisa saja bertikai, namun tidak bagi Mazmur, Thomas dan ketiga sahabatnya, walaupun kampung mereka bermusuhan, ayah Mazmur terbunuh oleh ayah Agnes, tapi mereka tetap berkawan dan berusaha mendamaikan kedua kampung ini.

“Ketidaksengajaan yang membawa berkat,” kata Chris tentang film itu.

Tanpa sengaja Christ bersua Ari Sihasale dan kru dalam penerbangan ke Jakarta. Beberapa anggota rombongan sedang kesal. Proses shooting film batal karena aparat sedang baku tembak dengan gerombolan bersenjata di Paniai, dekat dengan lokasi shooting. Singkat cerita, Christ menawarkan Lanny Jaya kepada mereka. Dua minggu setelah pertemuan pertama itu, co-sutradara dan penulis skenario datang ke Lanny Jaya. Chris menerbangkan mereka dengan helikopter ke Tiom, melihat lokasi shooting dari udara.

“Seminggu setelah kembali ke Jakarta, keputusan diambil. Lanny Jaya jadi lokasi pembuatan film,” kata Chris yang berperan sebagai kapolsek dalam film itu.

Pada kesempatan lain, Chris kembali mengundang pasangan Ale-Nia  untuk menjelajah Lanny Jaya dalam AleNia’s Journey Uncover Papua. Christ menjamin keamanan mereka, seperti waktu pembuatan film dahulu. Mereka membuat dokumentasi tentang perjalanan darat yang sukar sambil mengangkat hal-hal positif  tentang lingkungan, pendidikan, sosial, dan budaya.

Dalam acara AleNia’s Journey Uncover Papua itu peran Joko penting. Ia yang membawa rombongan ke beberapa sumber yang menjadi bagian penting dalam cerita. “Ini peristiwa paling berkesan bagi saya karena pelayanan WVI tercover di dalamnya,” bilang Joko.

Dan dalam semua kegiatan Pemda Lanny Jaya yang terkait pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat,  WVI selalu dilibatkan.

Chris masih menyimpan sebuah asa tentang pendidikan. Ia ingin, suatu saat nanti kalau ada orang dari Jawa berkunjung ke Lanny Jaya, mereka kaget menjumpai kondisi sekolah-sekolah di Lanny Jaya yang sama persis dengan kondisi sekolah-sekolah di Jawa.

“Sekarang, setelah lima tahun berlalu, semua sekolah kami sudah operasional,” kata Chris bangga. (Lex. Tulisan ini bagian dari buku: ADP Eruwok, 15 tahun melayani di Pegunungan Tengah yang diterbitkan WVI)

Tinggalkan Balasan