Pelatihan Petani Kopi Dogiyai  

JAYAPURA – Sebanyak 144 petani kopi arabika dari 72 kampung dan 10 distrik di Kabupaten Dogiyai, Papua mengikuti pelatihan budidaya dan penanganan pasca panen kopi arabika di Jayapura, akhir November (20-24/11/2017) lalu.

Pelatihan dipandu oleh Yayasan SCOPI Jakarta. “Pelatihan antara lain tentang budidaya, pemangkasan, memetik dan pengolahan setelah panen,” kata Nur Cayaha, pendamping dan ahli tentang kopi dari Jakarta.

Menurut Nur Cayaha, ketinggian dan suhu di wilayah Dogiyai sangat cocok untuk mengembangkan kopi jenis arabika. Apalagi, kata dia, para petani sangat bersemangat.

“Mereka sudah bertani kopi secara turun-temurun. Tinggal bagaimana pemerintah bisa membantu mereka, terutama soal pengemasan dan pemasaran produk,” kata dia.

Perhatian Pemerintah

Gerardus Agapa, petani kopi dari  Kampung Kamuu, Dogiyai,menyambut baik pelatihan-pelatihan seperti yang digelar yayasan Scopi. Karena selain teori, mereka langsung berpraktik. Hal seperti ini kata Gerardus jarang dilakukan. Selama ini mereka hanya dibekali secara teori.

Hanya saja Gerardus masih menyimpan keresahan tentang penanganan tanaman kopi kalau diserang hama dan penjualan setelah panen.

“Saya punya 1.700 pohon kopi. Sudah tentu namanya tanaman pasti terserang hama, maka perlu bantuan pemerintah untuk memberikan obat pembasmi hama. Begitu juga dari segi pemasarannya. Selama ini kami pasarkan apa adanya saja,” terangnya kepada Bintangpapua.co di Waena, Jumat, (1/12).

Petani lain, Amatus Dumupa, juga menyiratkan kekhawatiran yang sama. Ia telah mengikuti berbagai pelatihan seperti budidaya ikan air tawar, beternak babi dan pelatihan lainnya. Menurut Amatus, tindaklanjut dari pemerintah setelah pelatihan tidak ada. “Kita tra tau mau jual ke mana. Tapi dengan kopi  ini boleh. Mereka ajar kita cara tanam sampai jual,”kata dia.

Amatus berharap pemerintah terus mendampingi mereka. Ia mengaku telah menjadi petani kopi selama kurang-lebih 50 tahun. Selama puluhan tahun itu mereka berjalan apa adanya saja.

“Tidak ada pendampingan cara budidaya. Apalagi pendampingan cara pemasaran. Jadi kalau sekarang ada seperti ini, saya bersama masyarakat tani dari Kamuu sampaikan terima kasih kepada Dinas Perindagkop & UKM Kabupaten Dogiyai,” tandasnya.

Menurut Nur Cayaha, para petani Dogiyai telah memahami cara menanam dan memetik dengan baik. Buah kopi yang dipetik adalah yang matang dan berwarna merah.

“Yang kurang di sini soal penanganan setelah panen seperti pengemasan dan pemasarannya saja. Memang, pemerintah harus turun tangan bantu mereka. Kabupaten Dogiyai ini menurut saya bisa menjadi salah satu sentra kopi arabica di Indonesia,” pungkasnya.(Nls)

Tinggalkan Balasan