“Jalan Sutera” Bondan Winarno

 Ahli kuliner Bondan Winarno mangkat pada Rabu (29/11/2017) pagi di ICU RS Harapan Kita Jakarta dalam usia 67 tahun. Bondan lahir di Surabaya pada 29 April 1950.

 Saya sedang di Papua pada tanggal  di atas. Tetapi ingat peristiwa ketika saya minta waktu mewawancarainya di @amerika, Jakarta, pada September 2016. Sudah larut malam. Setelah menjadi panelis peluncuran buku kumpulan cerpen, Bondan akan pulang.

 “Sudah overload,” ujarnya menolak saya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.  “Bisa cari yang lain saja?” ujar  dia lagi.

 Saya menyejajari tubuhnya dan sedikit “menggerutu”.  “Sepuluh  kali saya mengirim email dan 12 kali SMS,” kata saya.

 Barangkali karena tidak enak hati, atau mungkin juga kasihan pada saya, ia duduk lagi dan minta diwawancarai.

 Satu setengah jam kami ngobrol: Dari kasus tipu-tipu emas di Busang yang kemudian ditulis menjadi buku laporan investigasi paling top di Indonesia, hingga  istilah “makyusss” yang identik dengan dirinya. “Istilah ini bukan dari saya,” akunya jujur.

Demi kenangan padanya, saya sengaja mencari lagi wawancara ini dan melakukan revisi serba sedikit atasnya. Selamat jalan Bondan ‘Makyuss’ Winarno. Engkau telah melewati “jalan sutera” kehidupan. Rest in Peace!

***

Ia pernah bekerja sebagai wartawan, manajer, pengusaha, penulis masalah manajemen, penulis wisata dan makanan, serta pembawa acara televisi; Wisata Kuliner. Dalam setiap profesinya, selalu ada pencapaian puncak yang ia catatkan.

Sebagai wartawan, ia dikenal karena investigasinya tentang tipu-tipu cadangan emas Busang yang dibukukan dalam Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi. Karya itu dianggap sebagai salah satu laporan investigasi terbaik yang pernah ada di Indonesia. Tetapi gara-gara tulisan itu pula Bondan harus jadi pesakitan. Ia dituduh mencemarkan nama baik I.B. Sudjana, Mentamben saat itu.

Ia juga menulis masalah manajemen padahal tak pernah mengecap ilmu manajemen secara formal. Ketika sudah banyak pakar manajemen muncul di media massa, Bondan berhenti. Lalu ia mempelopori menulis tentang kuliner. “Jalan sutera”, nama kolom kulinernya, menjadi daya tarik di media massa. Tetapi saat acara serupa bermunculan, Bondan menarik diri dari acara Wisata Kuliner.

“Tidak semua mencapai puncak. Misalkan dalam dunia sastra ini, saya sama sekali tidak diperhitungkan. Nama saya tidak dikenal orang di sana,” ujarnya.

Anda melompat-lompat ke berbagai bidang pekerjaan, tetapi selalu mencapai puncak di sana. Bagaimana Anda bisa melakukan hal itu?

Karena saya ini Naga Berkepala Sembilan, ha-ha-ha-ha. Sebenarnya saya tidak meloncat-loncat. Ada benang merahnya yaitu komunikasi dan informasi. Sekalipun tetap muncul di TV, saya tidak pernah melupakan menulis.  Kalau dikatakan saya selalu mencapai puncak karier dalam pekerjaan-pekerjaan saya, ndak juga. Soal menulis cerpen misalnya, saya tidak pernah mencapai puncak. Ada wacana apapun tentang cerpen Indonesia, nama saya  tidak pernah disinggung. Di situ saya harus akui bahwa ini bukan bidang saya.

Tetapi saya tidak pernah melakukan pekerjaan apapun secara sembarangan. Saya seorang pandu, dan saya selalu memegang janji pandu: On my honour I promise that I will do my best! Kalau saya disuruh ngepel lantai aja, saya akan lakukan dengan sebaik-baiknya.  Tidak ada pekerjaan yang saya sepelekan. Apapun itu! Saya pikir Tuhan memberi kita talenta agar kita maksimalkan.

Banyak yang menilai Anda menjadi pelopor pada banyak bidang, dan selalu berhasil

Terima kasih atas penilaian mereka. Saya sebenarnya selalu tertantang untuk menjadi yang terbaik. Maaf bila ini terdengar sedikit sombong. Dulu saya dianggap terbaik dalam tulisan manajemen. Kemudian banyak bermunculan penulis manajemen lain. Saya kan merasa tidak punya credential, saya bukan doktor atau MBA. Sementara ada Hermawan Kertajaya, Rhenald Kasali, ya saya turun gunung saja lah. Waktu saya mulai kuliner juga begitu. Saya mulai saja, kalau sudah banyak yang lebih pintar dari saya, ya saya turun. Jadi semua tidak sengaja. Karena ternyata masyarakat menikmati itu, ya saya ladeni.

Kemudian Anda menulis tentang kuliner dan jadi pelopor di sana.

Saya ingat, ketika akan mulai menulis kuliner, ada wartawan, anak muda, bawahan saya mengatakan: “Pak, jangan nulis tentang masak-masak dong. Bapak itu Pimred, ndak boleh nulis kayak begitu.” Lalu saya bilang: kamu bisa ndak nulis (tentang kuliner)? Kalau kamu bisa, saya akan mundur. Dia bilang, saya ndak bisa. Lalu saya bilang, yang lain juga belum bisa kan. Selama belum ada yang bisa, saya nulis dulu. Sampai ada yang bisa, yang lebih bagus dari saya, saya akan mundur.

Awalnya saya menulis tentang jalan-jalan. Setahun kemudian saya semakin banyak menulis tentang makan-makan. Saya kaget sendiri, karena waktu jalan-jalan saja sudah banyak yang comment lewat email, dan waktu tentang makanan perhatian orang semakin besar. Di situ saya baru sadar, belum ada orang yang menulis tentang makan-makan. Di luar negeri itu biasa. Saya masuk ke sesuatu yang belum biasa dikerjakan orang. Seperti saya menulis Kiat, belum ada orang menulis manajemen dan review bisnis. Ketika kemudian saya lihat banyak orang menulis, saya mundur sendiri. Saya menulis Kiat 10 tahun sampai Tempo dibredel.

Anda tidak pernah menyebut makanan tidak enak?

Di televisi saya tidak pernah bilang makanan tidak enak. Tidak pernah. Saya boleh bilang ini dagingnya masih alot, atau bumbunya kurang meresap. Kritik saya sampai di situ aja, saya tidak pernah mengatakan tidak enak karena saya tahu bagaimana sulitnya bekerja di dapur. Tidak ada orang di dapur yang bercita-cita membuat makanan yang tidak enak. Nggak ada. Kalau makanan tidak enak itu kecelakaan. Jadi jangan menuduh saya mengatakan enak karena saya dibayar.

Bagaimana istilah Makyus itu muncul? Apakah arti maknyus itu enak?

Defenisi maknyus itu sangat longgar. Saya bisa mengatakan maknyus untuk sayur yang sangat sederhana. Tapi waktu saya makan ada sensasi luar biasa di lidah saya. Tidak harus makanan yang mahal atau steak yang empuk. Di satu rumah makan di Bandung, unggulan dia sebetulnya gulai kepala ikan. Tapi menurut saya gulainya standar. Tapi ada satu sayur, daun ubi tumbuk, daun singkong pakai rimbang, bunga kincong dan santan, yang enak banget. Itu makanan orang Sumatera Utara. Saya bilang sayur itu yang maknyus. Itu adalah surprise yang saya terima.

(Istilah) Maknyus ini dari (Prof) Umar Kayam. Beliau punya kolom di harian Kedaulatan Rakyat Yogya yang judulnya Mangan Ora Mangan Asal Kumpul. Dia kalau menggambarkan makanan yang enak itu, bistik yang enak maknyus, sate yang enak maknyus. Saya juga nggak sengaja menyebutkan itu, ketika suatu saat saya bilang maknyus dan produser bilang wah itu bagus. Lalu pemirsa di mana-mana panggil saya maknyus.

Sudah berapa restoran yang Anda masuki?

Banyak sekali. Ini tahun ke-9, sekitar 1.000 episode. Kalau satu episode ada 5 warung dan restoran, berarti sudah sekitar 5 ribu warung dan restoran yang pernah saya datangi.

Bagaimana cara Anda bisa menentukan tempat makan yang enak?

Dengan mencoba sendiri. Saya jalan, melihat apa yang orang lain makan, terus saya coba. Karena kalau tanya tempat makan yang enak di Indonesia, belum tentu orang tahu. Kemana pun kita pergi, kita akan selalu menemukan makanan yang enak.

Kelebihan kuliner Indonesia?

Kaya sekali. Sama dengan kuliner Tionghoa, tiap propinsi beda-beda. Ikan kuah kuning Papua beda dengan pesisir utara Jawa, meskipun bahannya relatif sama. Sebenarnya tidak ada makanan Indonesia. Yang ada adalah konglomerasi  berbagai daerah. Makanan Padang beda sama makanan Minang. Di pinggiran itu ada yang namanya Kapau, rasanya beda lagi. Orang padang yang di Pariaman, yang pinggir laut beda sekali dengan di Batusangkar. Jenis makanannya beda, cara masaknya pun beda.

***

Tahun 1997 diberitakan adanya cadangan emas yang besar di Busang, Kalimantan Barat. Harga saham Bre-X, perusahaan asal Kanada yang akan melakukan eksplorasi melambung tak masuk akal, 280 dollar per lembar. Namun tak berselang lama, Michael de Guzman, geologis dari Bre-X, dikabarkan bunuh diri dengan cara melompat dari helikopter. De Guzman adalah  orang yang memegang kunci mengenai cadangan Busang. Bondan curiga. Analisa dia, de Guzman bekerjasama dengan pedagang saham di Amerika yang mengetahui cerita ini. Jadi setiap kali dia mengatakan dia menemukan emas di Busang, maka setiap kali pula harga saham Bre-X naik. Dan pialang saham ini diuntungkan karena dia melakukan insider trading. “Karena banyak orang mau beli dia bilang: ‘OK kamu bisa beli seribu, tapi kartu sahamnya tidak bisa saya kasih sekarang, tanda terima saja untuk 100 saham.’ Ketika ketahuan harga saham yang tadinya mencapai 280 dolar akhirnya menjadi 10 sen maka dikeluarkanlah surat sahamnya, tapi harganya sudah 10 sen. Sewaktu harga tertinggi Guzman telah menjual sahamnya.”

 Anda kemudian tertarik menginvestigasi kasus Busang?

Saya sangat skeptis saat itu. Tidak mungkin ada orang meloncat dari ketinggian sekitar 900 meter  tetapi tubuhnya masih utuh. Menurut saya hal itu sangat tidak mungkin. Tiga hari kemudian saya dengar berita bahwa mayatnya ditemukan. Ini merupakan kemungkinan  yang sangat jarang. Mukjizat bahwa tubuhnya masih utuh.

Ada pesawat hilang di Kalimantan yang oleh para penerbang dijuluki sebagai broccoli forest,  saking rapatnya pepohonan, dan sampai sekarang pesawat itu tidak ditemukan. Kok tiba-tiba jenazah yang begitu kecil dapat ditemukan dalam waktu singkat? Kondisi tubuh yang dideskripsikan dalam berita itu juga tidak cocok dengan kondisi tubuh seseorang yang jatuh dari ketinggian 800 feet. Bagaimana mungkin masih utuh?

Dari sepotong info ini saya membuat satu kesimpulan berdasar professional skepticisme bahwa semua cerita ini adalah palsu. Karena itu saya sangat berminat melakukan investigasi.

Anda butuh waktu berapa lama?
Seingat saya, total waktu investigasi sekitar 4 minggu. Naskah sudah selesai saya tulis 8 minggu setelah mulai investigasi, dan dicetak dalam waktu 2 minggu.

Berapa narasumber yang harus Anda wawancarai?
Saya lupa jumlah persisnya. Sekitar 30 orang, baik di Jakarta, Samarinda, Balikpapan, Busang, Manila, Toronto, Calgary. Yang jelas, saya dua kali ke Busang, sekali ke Manila, dan sekali ke Toronto dan Calgary di Canada.

Kesulitan apa yang Anda hadapi saat melakukan reportase itu?
Terutama karena saya waktu itu tidak terikat dengan media mana pun, sehingga sulit menembus beberapa narasumber yang selalu minta keterangan resmi dari media pers. Tetapi, saya menggunakan sopan santun dan kerendahan hati dalam melakukan investigasi, sehingga banyak pihak yang bersedia bicara.

Terus terang, munculnya artikel saya di The Asian Wall Street Journal tentang kasus ini membuat banyak pintu terbuka. Mereka menduga saya ahli tambang, karena tulisan itu memang cukup komprehensif.

Bagaimana Anda melihat hidup Anda saat ini?

Saya sudah pensiun. Saya sengaja melakukan ini saat usia 50 tahun. Cukup sudah. Saya sekarang di jalur lambat, memasuki kehidupan yang berbeda dari saat masih di jalur cepat. Ya, saya bersyukur saja pada Tuhan. Dia sudah memberkati saya dengan banyak talenta, dan itu yang ingin saya bagikan kepada banyak orang. Saya akan melakukan sebisa saya. (Lex)

Tinggalkan Balasan