Pendekar Kesehatan dari Bukit Iriliga

ADA satu hari di mana kami  sebenarnya akan ke Tolikara dari Wamena, di Pegunungan Tengah Papua. Dua orang kader kesehatan harus diwawancarai di sana. Kami akan melewati Puncak Mega, titik di mana seluruh keindahan Lembah Baliem di bawahnya boleh dilihat dari atas.

Tetapi karena kondisi di Tolikara sedang panas akibat Pilkada pada Februari 2017 itu, tujuan dialihkan ke Iriliga, Distrik Bpiri, Kabupaten Jayawijaya, sebuah kampung yang berangin di atas bukit-bukit  hijau.  Andrie Lummy, Area Manager WVI yang meliputi Jayawijaya, Lanny Jaya dan Tolikara pagi-pagi telah mengirim pesan pembatalan: “Jalan menuju Tolikara belum bisa dilewati karena sedang dipalang terkait Pilkada dan peristiwa tabrakan maut beberapa hari lalu. Sopir yang tabrak belum bayar ganti rugi,” kata Andrie.

Kami berkendara selama sejam melewati Kampung Air Garam di Distrik Bugi. Kampung ini terkenal berkat Yali Inggibal dan Kepala Suku Wulep Kenelak yang membangun jamban agar warganya tidak buang air besar di sembarang tempat. Jamban bikinan Yali telah diduplikasi ke beberapa desa di sekitarnya, termasuk konsep denda yang diterapkan Wulep.

Yali dan Wulep menjadi tokoh penggerak untuk kampung Air Garam, Manda dan tiga kampung lainnya di sekitar Air Garam. Total sudah 328 buah jamban mereka bikin.

Lepas dari Distrik Bugi, kami masuk Distrik Yalengga, lalu belok kanan keluar dari ruas jalan Wamena-Tolikara. Mobil mulai merayap di punggung-punggung bukit. Jalan baru perkerasan, tetapi di sana-sini telah digerus banjir. Andai saat naik sedang turun hujan, kami harus balik kanan ke Wamena. Bahkan mobil jenis four wheel drive seperti yang kami tumpangi akan sukar melewati jalanan yang licin dengan kemiringan 60 derajat. Namun beruntung, selama dua minggu pada akhir Februari itu, Jayawijaya hanya diguyur hujan ringan.

Dan kami tiba di Iriliga. Mobil telah kami tinggalkan jauh di belakang di atas bukit yang lain. Kami berjalan kaki. Jembatan kayu yang menjadi penghubung antar kampung tak kuat menahan bobot mobil. Tetapi lebih dari itu kami sengaja memilih jalan kaki, agar dapat menikmati alam Iriliga seasli-aslinya.

Barisan pegunungan yang memanjang dan curam menjadi pembatas kawasan ini, sebab di sebelah gunung itu adalah kabupaten lain yakni Kabupaten Membramo Tengah. Namun di sisi yang berlawanan, setelah melewati landskap pemukiman warga, pandangan bisa leluasa dilepas ke lembah Baliem yang elok di bawahnya. Saya membayangkan kawasan Puncak di Bogor Jawa Barat yang setiap akhir pekan penuh oleh atlet paralayang, dengan payung warna-warni memenuhi udara di atasnya. Potensi olahraga sekaligus wisata paralayang  sangat terbuka di gunung-gunung di Jayawijaya.

Tentu saja Iriliga tak ada dalam peta Indonesia, kecuali peta kabupaten Jayawijaya. Di bawah terik matahari bersama fasilitator Wahana Visi Indonesia (WVI) Tadeus Kogoya, Giluk Inggibal yang biasa disapa Pak Pes,  videomaker Franky Making, kader kesehatan Lanni Koroba dan Sara Uaga,  kami berjalan kaki. Sara tengah hamil delapan bulan, tetapi masih kuat naik-turun bukit. Langkahnya kadang terlalu cepat bagi kami.

Tujuan kami menemui Wamber Gombo, tokoh agama di Iriliga. Begitu tiba di Gereja GIDI Jemaat Anugerah Iriliga semua rasa lelah seolah terbayar tuntas. Saya kaget, karena tiba-tiba kami telah berada di ketinggian, dikepung oleh lanskap pegunungan yang indah.

Wamber Gombo dan istri

Ladang ipere menghampar jauh, kerap menukik di dasar lembah. Sukar mencari tanah yang datar di sini, kecuali di mana kampung-kampung berada. Dan setiap kampung dipagari oleh kayu-kayu yang ditancap rapi lalu atasnya diberi “payung” rumput-rumput agar tak mudah lapuk terkena hujan dan panas. Setiap kampung punya gerbang sebagai jalan masuk-keluar. Setiap gerbang juga “dipayungi” dan selalu ditutup. Beberapa anak kecil berlari-lari membuka gerbang buat kami. Dan dalam sekejap seluruh kampung telah berkumpul.

Bukan hanya Saya kagum karena yang seperti ini hanya pernah saya tonton dalam film-film  kolosal tentang raja dan pengeran dari pedalaman Irlandia.Tetapi kali ini kami berada di Iriliga di Papua, masih bagian dari Indonesia. Sebagai orang yang hidup di Jakarta yang jarak antar rumah hanya dipisah oleh tembok, datang ke Iriliga memang bikin iri. Kalau tidak kaya luar biasa, tak mungkin punya rumah berhalaman luas seperti di sini.

Dan bagi saya , honai-honai yang teratur rapi dengan public space di depannya,  dan bangunan gereja pada ujungnya yang lain, hanya dihasilkan oleh peradaban yang maju. Saya yakin semua itu dirancang dengan sengaja. Dari hal ini saja saya menjadi sangsi dengan pandangan sementara orang yang menilai warga Papua terbelakang dan bodoh. Sebab tidak mungkin menata lanskap perkampungan yang  menghadap hamparan lembah di bawahnya,  dan gunung yang memagarinya di belakang, jarak antar honai sekian meter, dirancang oleh mereka yang bodoh.

Bagi saya, orang  Papua memiliki kegeniusannya sendiri. Punya local wisdom-nya  sendiri. Punya cara bertahan hidupnya sendiri. Punya ipere yang tidak perlu diganti dengan beras. Punya sayur-sayuran, buah, kopi, tebu, buah merah, dan apa saja yang telah menghidupi mereka secara turun-temurun. Mereka punya babi sebagai sumber gizi dan komoditas ekonomi. Sialnya, kita selama ini mengukur segala kemajuan dari Jawa. Dilihat dengan kacamata Jakarta. Juga Papua dan rakyatnya selalu dilihat dari kacamata ini. Dan mereka dicap bodoh dan terbelakang.

Keramahan selalu tampil kapan saja, di mana saja di sini. Keramahan yang tulus. Bukan keramahan yang basa-basi. Maka ipere bakar mudah terulur dari dalam noken ibu-ibu. Itu bekal makan siang mereka di ladang. Agar kami yang masih berjalan jauh tak perlu kelaparan. Ikhlas!

Atau ada yang menahan kami agar menunggu barang sebentar saja. Lalu ia berlari-lari ke honainya. Kemudian datang menatang nampan berisi ipere bakar yang manis. Atau di lain rumah, si empunya rumah secara terburu-buru memetik buah markisa dari pohonnya. Ia mengulurkannya dengan wajah penuh senyuman, dan berujar, “Maaf, kami tidak bisa memberi apa-apa selain ini.”

Kala berpapasan di jalan, entah kenal atau tidak kenal, ringan sekali kami disapa dan diajak berjabat tangan. Rupanya berjabat tangan dan mengucapkan salam sudah mendarah daging. Pada jalanan yang menanjak tajam di Iriliga itu, mama-mama dengan noken yang penuh berisi ubi dan sayuran di kepalanya, selalu berhenti sekedar berjabat tangan dan mengucapkan salam. Keramahan orang kampung yang tulus. Tidak dibuat-buat. Sebab orang yang lewat di hadapannya adalah sesama yang perlu disapa. Homo homini socius!

Tokoh Agama Penggerak Kesehatan

Wamber Gombo berusia sekitar 70 tahun. Ia menjadi pendeta di Gereja GIDI Iriliga sejak tahun 1973. Ia berbicara dalam bahasa Walak, bahasa salah satu subsuku di Pegunungan Tengah. Sara menjadi penerjemah.

“Bersama Bapak Wamber ini, kami bahu-membahu menyampaikan pesan kesehatan di Iriliga. Ada juga kader Lanni Karoba dan Mama Demina Uaga,” kata Sara.

Wamber beberapa kali ikut pelatihan yang diadakan WVI di Wamena. Ia diundang dalam kapasitasnya sebagai tokoh agama dalam program Tokoh Agama untuk Kesehatan Ibu dan Anak (ToGa-KIA). Ia dilatih untuk dapat menyampaikan isu Kesehatan Ibu dan Anak dalam khotbah-khotbah maupun acara di gereja.

“Setelah khotbah saya sampaikan nasihat kepada jemaat. Setiap bulan adapenimbangan anak harus ikut. Ketemu ke ladang kasih tahu soal cuci tangan, ASI eksklusif, kalau hamil tidak usah kerja berat. Saya juga bilang ke bapak-bapak supaya bantu istri kerja kebun. Anak bayi selalu periksa ke kader kalau sakit, biar dikasih obat. Kalau agak parah biar kader bikin surat rujukan ke Puskesmas,” kata Wamber.

Wamber tidak hanya berbicara dari atas mimbar. Bertemu di mana saja ia selalu menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada jemaatnya. Termasuk juga soal pembuatan akte kelahiran.

“Saya selalu tanya, apakah sudah buat akte kelahiran atau belum? Karena akte sangat penting untuk keperluan pengambilan data,” ujarnya.

Kalau Wamber  menjadi kader Toga-KIA, istrinya adalah kader PMBA. Istrinya selalu mengajarkan cara mengolah makanan kepada para ibu di gereja. “Makanan bergizi ada di sekitar kami. Sayur harus dicuci sebelum dimasak. Sebelum suap anak, ibu harus tangan bersih,” kata dia.

Atas anjuran Wamber dan kader kesehatan, ibu hamil dan balita yang sakit di Iriliga cepat tertangani.

“Kami sudah menyiapkan pertolongan pertama seperti diajarkan oleh WVI dan petugas kesehatan. Di Kumudluk selalu tersedia obat-obatan, baik untuk diare, untuk batuk maupun kalau anak-anak demam. Di Onggabaga juga ada obat. Kalau sudah agak parah kami langsung bawa ke Puskesmas Wollo. Di sana ada dokter Filand dan petugas kesehatan yang lainnya,” ujar Sara yang tamat dari SMA Kristen Wamena pada tahun 2005. Dokter Filand Pay adalah Kepala Puskesmas Wollo yang telah memperpanjang masa PTT-nya selama dua kali di sana.

Sara Uaga

Dari Iriligi kami harus kembali ke  Onggabaga. Mama Demina Uaga telah menanti di sana. Mama Demina bisa berbahasa Indonesia meskipun terbata-bata. Penjelasan yang agak panjang diterjemahkan Sara.

“Selain menjadi kader MTBSM, saya juga kader PMBA dan HBLSS. Habis Puskesmas jauh jadi…. Kalau ada ibu yang tiba-tiba mau melahirkan kami tolong saja di sini. Tahun lalu (2015) dengan tahun ini (2016) ada enam ibu yang saya bantu melahirkan. Semua selamat,” kata Mama Demina yang pernah bertemu Menteri Kesehatan Nafsiah Mboy ketika mengikuti Jambore Kesehatan di Jakarta bersama WVI.

“Ibu Menteri jabat tangan. Saya senang sekali,” ujar Demina dengan wajah sumringah. Demina menyelesaikan pendidikannya melalui kejar Paket B dan C di Yalengga.

Sebenarnya ada peraturan dari pemerintah kabupaten Jayawijaya agar semua ibu hamil melahirkan di Puskesmas atau minimal dibantu tenaga kesehatan. Sehingga tugas kader HBLSS hanya menginformasikan kepada masyarakat mengenai tanda-tanda kesakitan dini pada pada ibu hamil dan anak baru lahir.

Tetapi antara Onggabaga dan kampung-kampung sekitarnya dengan Puskesmas Wollo berjarak lebih dari lima belas kilometer. Sekitar tiga jam berjalan kaki.

Hanya bisa jalan kaki sebab meskipun ada jalan perkerasan, kendaraan yang lewat hampir tidak ada. Persoalannya lagi, kata Demina, ibu-ibu hamil di tempatnya tidak tahu kapan mulai hamil sehingga sukar menetapkan Hari Perkiraan Lahir (HPL)nya.

“Tiba-tiba saja ketuban sudah pecah. Mau tidak mau kita harus tolong di sini,” kata dia.

“Bagaimana dengan memotong tali pusar?”

Demina mengatakan, memakai silet baru yang sudah disterilkan. Silet direndam ke dalam air mendidih beberapa saat. “Harus silet baru. Tidak boleh yang sudah pernah dipakai. Nanti infeksi,” jelasnya.

Demina Uaga

Bagi orang dari luar Papua seperti saya, mendaki di bukit-bukit di Iriliga, Onggabaga dan Koragi bukan perkara gampang. Tetapi bagi Sara Uaga, bukan persoalan. Padahal ia tengah hamil tua Februari 2017 itu. “Kita sudah biasa to, Bapak,” ujarnya sembari tertawa.

Jarak antara Onggaba dan Iriliga memang hanya sekitar 3 kilometer. Tetapi jalanan yang mendaki dan menurun, apalagi berjalan di bawah terik matahari sungguh menguras tenaga. “Minimal satu minggu sekali saya ke Iriliga ketemu Bapak Wamber dan warga di sana. Tetapi tergantung kebutuhan saja,” kata Sara.

Lanni Koroba pun demikian. Sebagai kader MTBSM ia menangani tiga kampung yakni  Kumudluk, Koragi dan Telegai. Ia tidak menunggu pasien datang padanya. Ia yang proaktif mendatangi mereka.

“Kalau saya dengar ada anak bayi sakit, saya pasti ke sana membawa obat buat dia. Kalau mencret saya kasih oralit enam bungkus. Setiap buang air kasih satu bungkus. Kalau belum sembuh juga, saya temani ke Puskesmas Wollo. Kalau batuk dan sesak nafas kita kasih cotry dan zinc,” ujar Lanni.

Setiap kader dilengkapi dengan peralatan manual untuk menghitung kecepatan detak jantung. “Kalau lebih dari 100 denyut permenit dan nafasnya naik-turun (tersengal) kita harus bawa ke Puskesmas. Apalagi kalau panas tinggi,” kata Lanni.

Lanni pria sederhana yang murah senyum. Ia tidak memakai sandal sepanjang perjalanan dari Koragi-Iriliga. Ia mengajari saya cara menghitung detak jantung dengan peralatan aritimer.

“Saya berterima kasih sama WVI yang sudah ajar kami seperti ini,” kata Lanni dengan terbata-bata.

Sore menjelang. Matahari tersisa remang-remang sebelum masuk ke balik gunung. Suhu menjadi 15 derajat celsius. Sangat sejuk. Saya sengaja menjauh. Berdiri di belakang gereja, menikmati alam seasli-aslinya. Lembahnya seperti penuh misteri. Kicau burungnya. Bayangan bukitnya. Temaram cahaya matahari sorenya. Semua menyatu dalam keheningan yang dalam.

Saya bersyukur bisa bertemu dengan para kader, orang-orang sederhana yang berjibaku menyelematkan kehidupan di bukit-bukit di Iriliga, Koragi, Onggabaga dan Kumudluk. Mereka benar-benar memeras keringat dan tidak mengeluh. Dalam segala keterbatasan, mereka mau berbuat untuk sesamanya. (Lex)

Tinggalkan Balasan